Dinas Sosial Kunjungi Anak Yatim, Kehilangan Ibu dan Tak Pernah Mengenal Ayah Sejak Lahir di Kecamatan Kopang Lombok Tengah.
Lombok Tengah, 26 Maret 2026 – Dinas Sosial Kabupaten Lombok Tengah menunjukkan kepeduliannya dengan mengunjungi seorang anak yatim yang sempat viral di media sosial, setelah kehilangan ibunya. Anak tersebut diketahui belum pernah bertemu dengan ayah kandungnya dan saat ini tinggal bersama neneknya di Dusun Ngorok, Desa Kopang Rembiga, Kecamatan Kopang.
Meski secara administrasi kependudukan tercatat di Kabupaten Lombok Timur, kondisi riil anak tersebut berada di wilayah Lombok Tengah, sehingga memerlukan perhatian dan penanganan lintas wilayah.
Kepala Dinas Sosial Lombok Tengah bersama Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan tim turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi anak sekaligus memberikan dukungan moril dan bantuan sosial. Dalam kesempatan tersebut, Dinsos juga menghimbau kepada Kepala Wilayah setempat agar segera mengurus domisili anak tersebut, sehingga dapat diusulkan ke dalam berbagai program bantuan sosial seperti YAPI (Yatim Piatu), PBI Jaminan Kesehatan, dan program perlindungan sosial lainnya.
Sebagai bentuk kepedulian, Dinas Sosial menyalurkan bantuan berupa sembako dan kebutuhan dasar, di antaranya beras 10 kg, abon sapi, gula, minyak goreng, mie instan, serta perlengkapan tidur berupa kasur dan selimut. disamping itu juga pekerja sosial kementerian sosial RI juga memberikan dukungan psikososial berupa penguatan keluarga dan terapi psikososial terhadap keluarga dan anak guna menumbuhkan rasa percaya diri anak yang sempat hilang akibat berita viralnya.
Kepala Dinas Sosial menyampaikan bahwa kehadiran pemerintah tidak hanya sebatas memberikan bantuan materi, namun juga memastikan hak-hak dasar anak dapat terpenuhi secara berkelanjutan.
Dinas Sosial hadir bukan sekadar memberi, tetapi memastikan anak ini mendapatkan perlindungan, perhatian, dan masa depan yang lebih baik. Jangan dilihat dari besar kecilnya bantuan, namun dari kepedulian kita bersama.
Dinas Sosial juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya para konten kreator, untuk lebih bijak dalam menyikapi kondisi anak tersebut. Diharapkan agar tidak sembarangan merekam dan menyebarluaskan video tanpa izin, mengingat hal tersebut dapat berdampak pada kondisi psikologis anak di masa depan.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di balik viralnya sebuah kisah, terdapat tanggung jawab bersama untuk menjaga martabat, privasi, dan masa depan anak-anak yang sedang menghadapi masa sulit.












